Kutipan dari La Tahzan

Aku terhenyak ketika mendapatkan bacaan ini…

…………….

Sufyan Ats-Tsauri mengeluarkan beberapa bait puisi :

“Engkau tak harus membuka pintu untuk meminta,

ketika orang tak mau memberi garam dan sepotong roti,

Minumlah dari air sungai Eufrat,

dan berikan untuk minum orang yang makan bubur

Bersendawalah mengikuti mereka

seakan engkau ikut berebut kue-kue mereka”

Sebuah gubuk yang terbuat dari kayu, kemah yang terbuat dari kain dengan roti gandum, jauh lebih mulia -ketika kita mampu menjaga kehormatan kita- daripada istana yang indah, taman yang rindang, namun dipenuhi dengan keresahan dan kegundahan.

Ujian itu ibarat penyakit, yang pada saatnya nanti pasti akan sembuh. Barangsiapa terburu-buru untuk membuangnya, maka kondisi tubuhnya akan semakin melemah dan akan semakin parah. Demikian pula dengan musibah dan ujian, yang pada saatnya nanti akan hilang bersama bekas-bekasnya. Oleh sebab itu, kewajiban orang yang mendapat ujian adalah bersabar, menunggu datangnya jalan keluar, dan senantiasa berdoa.

“Kapan dunia akan ceria membawa kebaikan untukmu,

kalau kau tidak rela dengan pergaulan

Tidakkah kau lihat batu mutiara mahal,

bukankah mutiara itu dikeluarkan dari lautan yang asin

Mungkin saja sesuatu yang menakutkan datang membawa kengerian,

juga kegembiraan dan kesenangan

Mungkin juga keselamatan itu terjadi setelah adanya larangan,

bisa saja kelurusan setelah kebengkokan”

“Seakan engkau dapatkan di dalam buku kata tidak,

yang haram bagimu maka jangan menghalalkannya..

Jika musim dingin tiba engkau adalah adalah matahari.

Jika musim panas engkau adalah naungan.

Engkau tidak tahu jika engkau menginfakkan harta,

apakah engkau lebih banyak memberi atau lebih sedikit,

Engkau akan diganjar oleh orang lain dengan segala kebaikan

karena engkau adalah pahlawan yang paling mulia.

dengan wajahmu kami mengambil penerangan,

saat kami berjalan di malam-malam gulita.

Namamu dalam pendengaran adalah sebaik baik petunjuk

yang disebutkan disemua tempat dan tak membosankan.

Jiwa kami jadi tebusan atas segala goncangan,

dan para jamaah haji menjadi tebusan saat membaca talbiah.

DR. `Aidh al-Qarni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s